Dampak Sosial di Tengah Wabah Covid-19

pers kampus

Oleh

Muhammad Solekhudin

Mahasiswa Smt VI Prodi Pendidikan Informatika STKIPNU Kabupaten Tegal

Indonesia dikenal sebagai salah satu negara multikultural yang kaya akan budaya, suku, bahasa dan agama. Kekayaan tersebut bisa dilihat dengan adanya lebih dari 300 suku bangsa dan terdapat lebih dari 200 bahasa daerah. Selain itu, Indonesia  bangsa multicultural yang didalamnya terdapat beberapa agama yaitu Islam, Kristen, Khatolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu.

Dari keberagaman dan kekayaan tersebut, Indonesia memiliki  julukan sebagai salah satu negara pluralisme dengan berbagai macam agama, budaya, dan bahasa yang disatukan dengan semboyan “Bhineka Tunggal Ika”-walau berdeda-beda, tetap satu jua.  Meskipun demikian, perbedaan tetaplah perbedaan yang bisa memunculkan beda pendapat dalam penanganan sebuah permasalahan. Namun dengan budaya dan keyakinan yang sudah lama dianut menjadi dasar dalam penanganan perbedaan pendapat tersebut.

Dari keragaman tersebut tentunya rawan sekali terjadi konflik antar pihak-pihak yang berkepentingan dengan memanfaatkan perbedaan-perbedaan yang ada di Indonesia, seperti penanganan terhadap masalah pandemic yang melanda hamper seluruh Negara yang ada di dunia termasuk Negara Indonesia. Sejak muncul pada akhir Desember dari kota Wuhan, China, Virus Corona baru yang dinamai “Coronavirus Disease”(COVID-19) telah menyebar ke setidaknya 210 negara termasuk Indonesia. Sehingga WHO menetapkan kejadian ini sebagai Pandemi karena penyebaran sangat cepat dan dampak yang dihasilkan itu sangat besar pengaruhnya pada dunia global.

Dampak sosial akibat virus ini begitu besar terhadap masyarakat, hal ini terjadi karena korban yang berjatuhan akibat Covid-19 update terbaru selasa 14 April secara global menembus angka 1.918.679. dan 119.212 di antaranya meninggal dunia, sementara 443.192 berhasil sembuh. Di Indonesia sendiri hingga Senin 13 April terkonfirmasi melalui juru bicara penanganan Covid-19 Achmad Yuniarto ada 4.557 kasus dengan 380 sembuh dan 399 meninggal dunia. Hal tersebut mengakibatkan terjadinya pembatasan di berbagai kegiatan baik pada sektor ekonomi, pendidikan, transportasi, pariwisata, keagamaan dan kegiatan lain sebagai kebijakan pemerintah yang dilakukan masyarakat.

Bukan hanya itu, Pemerintah baik pusat maupun daerah sampai ketingkat desa juga gencar mensosialisasikan tentang pencegahanan dan penanganan Covid-19. Berbagai himbuan dan kebijakan diambil guna menekan penyebaran dan memutus mata rantai Virus Corona, tetapi sampai saat ini korban terus bertambah bahkan penyebarannya sudah masuk ke daerah dari yang awal ditemukan pasien suspek adalah di Ibu Kota.

Meningkatnya pasien yang positif mengakibatkan kepanikan yang terjadi dilingkungan masyarakat, termasuk kepanikan yang memicu terjadinya stigma negatif terhadap orang yang suspek Corona ataupun korban jiwa di lingkungan masyarakat yang diakibatkan dari Covid-19.

Erving Goffman seorang sosiolog dari Kanada menerangkan bahwa Stigma adalah situasi yang dialami oleh seseorang atau kelompok yang didiskualifikasi atau dikucilkan bahkan tidak berhak dan tidak bisa diterima penerimaan sosialnya secara penuh di lingkungan sosial.

Dari teori Erving sebenarnya bisa dipahami tentang kondisi yang ada pada situasi sekarang di mana stigma muncul karena asumsi masyarakat atau kelompok yang belum sepenuhnya mengerti kebenaran akan Covid-19 yang kemudian diyakini menjadi suatu kebenaran secara mutlak, mereka langsung mendiskritkan orang yang terpapar sebagai orang pembawa virus yang harus dihindari, tidak bisa hidup berdampingan serta ditolak keberadaannya.

Tentunya diskriminasi tersebut dapat memicu adanya konflik baru antar individu atau kelompok, munculnya konflik sendiri memang dipicu dari adanya perbedaan yang terdapat diantara dua pihak, dan pemicunya pun beraneka ragam. Terjadinya  penolakan prosesi pemakaman korban Corona di beberapa daerah di Indonesia merupakan salah satu contoh konflik sosial yang terjadi di lingkungan masyarakat. Perbedaan pemahamaan tentang korban positif Corona yang meninggal menjadi pemicunya, masih ada masyarakat yang beranggapan bahwa korban yang dimakamkan akan menyebarkan virus di daerah tersebut.

Tentunya hal tersebut menjadi pukulan besar di tengah-tengah wabah yang sedang melanda bangsa ini, terutama keluarga dari korban yang ditinggalkan. Sikap tersebut pula sangat bertentangan dengan alinea ke-2 dari Pancasila yang menyebutkan “kemanusiaan yang adil dan beradab”. Lalu adab yang mana ketika korban dari sebuah wabah ditolak oleh masyarakat kita sendiri.?

Kurangnya pemerintah sejak awal dalam memberikan pemahaman tersebut menjadi factor lain sehingga terjadi konflik antar individu dengan kelompok tersebut. Sangat disayangkan sekali ketika negara dengan mayoritas penduduk memeluk agama Islam tetapi terjadi hal demikian. Padahal agama khususnya Islam selalu mengajarkan kebaikan dalam kehidupan.

Tetapi demikian, kita tidak boleh dan tidak bisa serta merta menyalahkan pemerintah, dalam kasus ini sebenarnya benteng awal yang harus dibangun adalah dengan cara mengedukasi diri sendiri (education confident), hal ini harus dilakukan agar menghasilkan tingkat kesadaran tentang pentingnya kesahatan.

Setelah itu bisa dilakukan, untuk meminimalisir terjadinya stigma ataupun konlik yang dilakukan adalah proteksi sosial berbasis masyarakat yang dimulai dari tingkat lokal yaitu organisasi kemasyarakatan/komunitas. Ormas melalui pemimpinnya memberikan pemahaman akan pentingnya kesehatan dan cara penanganan Covid-19 guna mempercepat kesadaran. Karena kesadaran diri dari masyarakat sangat penting guna menekan serta memutus penyebaran Covid-19.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *